TUJUAN PENDIDIKAN

SDIT Harapan Bunda dengan segala potensi dan kemampuan yang ada berupaya mendidik siswanya agar mempunyai kompetensi yang terbagi dalam 2 bagian:

TUJUAN UMUM

  1. Pemahaman yang utuh terhadap dienul Islam yang tercermin dari terwujudnya 10 kompetensi dasar pribadi muslim, yaitu :
    1. Salimul aqidah (aqidahnya lurus)
    2. Shahihul ibadah (ibadahnya benar)
    3. Matinul khuluq (mulia akhlaqnya)
    4. Qadirun ‘alal kasbi (mandiri)
    5. Mutsaqaful fikri (luas wawasan berfikirnya)
    6. Qowiyyul Jismi (sehat dan kuat jasmaninya)
    7. Mujahidun linafsihi (Bersungguh-sungguh)
    8. Munadzom fi syu’unihi (tertib dan rapi dalam setiap urusannya)
    9. Harishun ‘ala waqthihi (disiplin waktu)
    10. Nafi’un lighairihi (bermanfaat untuk orang lain)
  2. Kemampuan dasar baca – tulis – hitung
  3. Ketrampilan yang bermanfaat bagi anak didik.
  4. Mempersiapkan anak didik menuju jenjang pendidikan SLTP.

TUJUAN IDEOLOGIS

Secara umum tujuan penyelenggaraan SDIT Harapan Bunda menca-kup seluruh tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum pada pasal 4 Undang-undang nomor 2 tahun 1989, yaitu : “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Penyelenggaraan SDIT Harapan Bunda tidak lepas dari tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah selaras dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu merealisaikan kedudukan manusia sebagai seorang hamba Allah dimuka bumi. Yusuf Qordhowi menyatakan tujuan pertama pendidikan Islam adalah terciptanya manusia-manusia beriman. Iman bukan sekedar ucapan/pengetahuan belaka, iman merupakan kebenaran yang jika masuk ke akal akan memberikan kepuasan aqli, jika masuk ke perasaan akan memperberatnya, jika masuk ke dalam iradah (keinginan) akan membuat dinamika dan mampu menggerakkan.

Tujuan pendidikan Islam tersebut dapat dicapai jika ciri-ciri pendidikan yang Islami dipenuhi secara sempurna. Ciri-ciri pendidikan tersebut adalah :

  1. Rabbaniyah Yaitu pendidikan berorientasi kepada Rabb semesta alam, Allah SWT, meliputi:
    1. Pelaku pendidikan : memiliki 2 karakteristik yakni manusia yang senantiasa belajar (mencari) dan senantiasa menyampaikan ilmunya setelah mengamalkannya (QS Ash-shof : 3). “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan ak kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS Ali Imron : 79)
    2. Prinsip/dasar : pendidikan membawa misi tauhid, meng-Esakan Allah dan menafikan semua sesembahan selain Allah. Sehingga hasilnya adalah sosok manusia yang senantiasa berpegang pada tujuan hidupnya yakni ‘ubudiyah’(penghambaan diri) pada Allah. Bukan manusia yang menonjolkan eksistensinya, takabur dan mengikuti hawa nafsu semata.
    3. Sumber : berpegang pada petunjuk Allah (Kitabullah) dan tuntunan Rasulullah SAW.
    4. Sistem dan komunitas yang dibentuk: sistem pendidikan Rasulullah SAW, suasana Islami, tidak berbaur antar lawan jenis dan keteladanan para pendidik.
  2. Keutuhan ruang lingkup pendidikan Pendidikan Islam mencakup 3 aspek secara seimbang:
    1. Sisi intelektual (pengetahuan) Sisi ini dibina pengetahuannya tentang dienul Islam secara utuh, ayat-ayat kauniyah yang senantiasa dikaitkan dengan ayat-ayat qauliyah yang dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan peradaban modern beserta permasalahannya.
    2. Sisi kepribadian : sisi ini dibina agar manusia yang terbentuk senantiasa berpegang pada akhlaq Islami.
    3. Sisi komitmen : sisi ini dibina agar terwujud insan yang senantiasa mengabdikan dirinya untuk kepentingan Islam.
  3. Bertahap (graduated) Pendidikan disusun secara bertahap sesuai perkembangan anak didik.
  4. Berkesinambungan (kontinuitas) Pendidikan dilaksanakan secara terus menerus, berkesinambungan dari segi waktu atau bahan ajar, agar mampu terjaga ‘ubudiyah manusia kepada Allah secara kontinue pula.
  5. Keseimbangan : ketiga unsur penyusun manusia mendapat perhatian seimbang, ruh – akal – jasad.
Iklan



%d blogger menyukai ini: