Belajar dari Ayam

22 04 2008

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang wali murid yang sedang berada di masjid. Hari itu adalah hari kerja , bukan hari libur atau tanggal merah. Ketika saya tanya kenapa bapak berada di masjid.. Beliaupun menjawab: “Pak Masruri, setiap anak-anak saya sedang ulangan semester. Saya berusaha mengambil cuti kerja untuk beri’tikaf di masjid. Kemudian saya berdoa agar Allah memberi kemudahan pada anak-anak saya dalam menghadapi ujian”. Saya tertegun dengan jawaban itu serta berguman dalam hati; pantas saja anak beliau yang merupakan salah satu dari murid saya itu prestasinya luar biasa. Prestasi akademik maupun akhlaknya.
Pada waktu yang lain saya menjumpai seorang wali murid yang memilki tiga anak. Ketiganya adalah anak-anak yang berprestasi. Ketiga anak itu juga dikenal sangat baik akhlaknya. Beliau seorang pegawai negeri di lingkungan departemen pertanian. Dalam sebuah dialog beliau berkata pada saya bahwa setiap bulan seluruh gajinya habis untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarga, dibiayai dari hasil tambak warisan orang tuanya yang tidak seberapa besar. Saya melihat sendiri memang kehidupan keluarganya sangat sederhana. Seolah-olah beliau dan istrinya hanya mengabdikan hidupnya untuk keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Dua fenomena di atas mengajarkan pada kita bahwa keadaan orang tua sangat memperngaruhi bagaimana keadaan anak-anaknya. Ada korelasi positif antara kesungguhan dan pengorbanan orang tua dalam mendidik anak dengan keberhasilan anak-anak mereka. Dalam pepatah kita mengenal ungkapan bahwa hanya mereka yang ‘menanam’ saja yang akan ‘menuai’ hasilnya. Walau terkadang hasil ‘tanaman’ itu belum bisa dirasakan sebagian orang tua saat anak-anak mereka masih sekolah. Tapi saya yakin bahwa kesungguhan dan pengorbanan orang tua tidak ada yang sia-sia. Kalau saat ini anak kita tidak ‘sukses’ di sekolah, kita masih bisa berharap mereka akan sukses pada saat dewasa. Karena tidak sedikit anak yang sekolahnya biasa-biasa saja prestasinya namun setelah dewasa justru sukses dalam karir.

Dalam konteks perhatian, penjagaan dan pengorbanan, dua kisah tersebut mengingatkan saya dengan peristiwa ayam yang sedang mengerami telurnya. Ketika ayam mengerami telur-telurnya, dia meluangkan waktu khusus selama 21 hari. Selama proses pengeraman itu si induk ayam menjalankan puasa (tirakat). ‘Puasa’ dari makan dan minum maupun puasa dari godaan ayam-ayam jago yang mengajaknya ‘bersenang-senang’. Setiap hari dia juga membolak-balik telur-telurnya agar setiap bagian telur dapat merasakan kehangatan cintanya. Dan anda jangan coba-coba mengganggu telur yang sedang dierami itu. Anda menyentuh saja, sang induk ayam akan marah dan tangan anda akan terluka oleh gigitan paruhnya.

Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari semua kejadian di sekitarnya untuk dijadikan perbaikan dirinya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu hadits bahwa hikmah adalah ibarat barang yang hilang dari seorang mu’min dan wajib baginya untuk mencarinya. Peristiwa ayam yang sedang mengrami telurnya saya rasa bisa dijadikan hikmah/pelajaran bagi kita untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik anak kita. Sebuah hikmah yang mengajarkan pada kita tentang arti penting dari perhatian, penjagaan dan pengorbanan orang tua untuk kesuksesan dan kebahagiaan anak-anak mereka. Dan sebuah hikmah yang mengajarkan pada kita bahwa anak-anak juga sangat membutuhkan sentuhan emosi dan spiritual kita dalam proses pendidikan mereka.

Apakah kita sebagai orang tua merasa cukup jika anak kita sudah dipenuhi kebutuhan pendidikan formalnya dengan sekolah yang baik dan dipenuhi kebutuhan fisiknya dengan memberi makanan yang bergizi? Cukupkah hanya itu saja? Tidak perlukah kita juga bertahajud di sebagian malam kita untuk mendoakan mereka? Tidak perlukah kita juga mendekatkan diri pada Allah dengan puasa-puasa sunah atau amal sholeh lainnya agar Allah memudahkan urusan kita dalam mendidik mereka?

Jika kita mendapati anak kita saat ini belum se-‘sukses’ dan sebaik yang kita harapkan maka kita perlu mengevaluasi diri: Sudahkah kita mengerami ‘telur-telur’ kita sebaik induk ayam mengerami telurnya?

Ditulis: Oleh Drs Masruri
Sumber: kpicenter.web.id


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: