Terima Kasih Kakek

12 03 2008

DI sebuah rumah papan yang sederhana, tinggallah seorang anak bersama kakeknya. Anak itu bernama Azis dan dia anak yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan saat menjemput Azis dari rumah kakeknya. Akibat tragedi itu pula, mata Azis menjadi buta. Sejak buta, Azis tidak mau bermain dengan teman-temannya. Dia hanya tidur-tiduran di ranjang.
Setelah kematian kedua orangtuanya, Aziz tinggal bersama kakeknya. Suatu kali, kakek Azis sakit parah. Azis tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya Azis memutuskan untuk mencari bantuan. Setelah bersusah payah, akhirnya Azis mendapat bantuan dari Pak Ahmad, tetangga sebelah.
Mereka segera pergi ke rumah sakit. Sampai disana, kakek Azis mendapat perawatan yang intensif dari dokter. Beberapa menit kemudian…
“Permisi, apakah Anda keluarga dari kakek itu?” tanya dokter kepada Pak Ahmad.
“Oh, maaf Dok, saya bukan keluarganya. Tapi anak yang ini cucunya,” jawa Pak Ahmad sambil menunjuk ke arah Aziz.
“Nak, kakekmu sudah lama menderita penyakit kanker yang sangat parah. Satu-satunya cara untuk mengambil kanker itu harus dioperasi. Kalau tidak, akibatnya akan fatal,” kata dokter panjang lebar.
“Apa tidak ada cara lain, Dokter?” tanya Azis sedih.
Dokter hanya menggelengkan kepala. Karena tidak ada biaya, akhirnya kakek dibawa pulang. Karena kakek sakit, Aziz tidak ada waktu lagi untuk tidur-tiduran.
Suatu hari, kakek merasa sakitnya kambuh lagi. Azis kembali pergi ke rumah Pak Ahmad. “Pak Ahmad, tolong saya, tolong antarkan kakek ke rumah sakit,” kata Azis meminta sambil tergesa-gesa.
“Tapi mobil saya rusak Aziz,. Bagaimana?” jawab Pak Ahmad.
Akhirnya Azis pulang dengan perasaan kecewa.
“Apakah kakek tidak bisa ditolong lagi?” tanya Azis dalam hati.
Tiba-tiba saja Azis jatuh, dadanya berdetak kencang sekali. “Apakah ada yang akan menimpa kakek?” pikir Azis dalam hati.
Sesampainya di rumah, Aziz mendengar suara kakek memanggil-manggil namanya. “Azis…, Azis…,” panggil kakek.
“Iya Kek, ini Azis,” jawab Azis sambil terisak.
“Azis, kakek… uhuk, uhuk… sudah tidak kuat lagi,” kata kakek sambil terbatuk-batuk.
“Kakek jangan begitu, Kakek harus kuat,” Azis makin sedih.
“Azis, kalau kakek sudah tiada, kamu harus belajar agar menjadi pintar ya,” pesan kakek.
Azis hanya menggelengkan kepala. Setengah menit kemudian, kakek sudah dipanggil oleh Allah Swt. Betapa sedih hati Azis, sekarang dia sebatang kara. Kakek yang dari kecil sampai besar merawatnya kini telah tiada. Hanya tinggal sebuah kesedihan yang mendalam bagi Azis.
Beberapa tahun kemudian Azis menjadi seorang sarjana. Dia ingin membuktikan janjinya pada kakek. Dia ingin membuktikan bahwa tuna netra itu juga bisa berprestasi seperti orang-orang normal. Terima kasih, Kakek.[]im

Kiriman: Khoulah Hanifah


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: