Naik Kereta Api Yuk!

7 03 2008

Naik kereta api
Tut..tut..tut…
Siapa hendak turut
Ke Bandung Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

Dengan riang gembira, siswa kelas II Khalid dan II Hamzah SDIT Harapan Bunda menyanyikan lagu tersebut ketika kereta yang mereka tumpangi sudah berjalan.
Kamis (6/3) mereka melakukan Pelajaran Luar Sekolah (PLS) ke Museum Kereta Api di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini merupakan puncak tema transportasi dan rekreasi, jelas Bu Krisni yang menjadi pemandu para siswa. Juga agar para siswa tidak jenuh belajar terus-menerus di dalam kelas, imbuhnya.
Laiknya anak-anak pada umumnya, mereka segera berlarian menuju ke stasiun yang terdapat di museum kereta api begitu bus yang mereka tumpangi berhenti. Ada yang naik ke lokomotif tua, ke perlintasan kereta api dan sebagian menyerbu ke penjual asongan yang sudah mangkal di sana.
Setelah diberi tugas tentang transportasi dan rekreasi, anak-anak dipersilakan naik ke kereta api yang sudah menunggu.
Ayo kawanku lekas naik… keretaku tak berhenti lama…
Sepanjang perjalanan dengan kereta, guru menerangkan berbagai hal yang dijumpai di kiri-kanan kereta api. Berbagai jenis binatang, aktivitas manusia, dan tumbuh-tumbuhan mereka temui. Rawa Pening yang terbentang di sebelah kanan dengan hamparan enceng gondoknya. Orang-orang yang sedang mengangkut pupuk organik yang berasal dari enceng gondok. Pemancing yang sedang asyik memancing ikan, juga para petani yang sedang menyiangi dan memupuk tanamannya.
Tak terasa, kereta sudah kembali ke museum lagi. Setelah makan siang bersama, siswapun berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Seusai melaksanakan shalat Dhuhur berjama’ah, mereka berkunjung ke Museum Palagan Ambarawa yang tak jauh dari masjid. Mereka berhamburan kembali mencari tempat favorit mereka. Ada yang main ayunan, jungkat-jungkit. Naik pesawat bomber. Atau hanya berlarian ke sana kemari.
Paling seru, ketika mereka menjumpai area outbound di bagian belakang area monumen. Ada jembatan goyang, lorong ban, tapak raksasa, piramid tali, dan flying fox. Nah yang terakhir ini yang paling banyak peminatnya. Tapi, karena alatnya cuma satu, sedang yang ingin mencoba banyak sekali, maka antriannya cukup panjang. Belum lagi ditambah pengunjung lain yang juga hadir saat itu.
Alhasil, tidak semua anak bisa ‘menjajal’ keberanian mereka dengan flying fox. Karena ketika giliran mereka tiba, Bu Titik sudah mengajak pulang. Yah.. batal deh. Sudah ngantri lama, gak jadi lagi, keluh Iqbal.
Tidak apa-apa, insya Allah, nanti kalau sudah kelas 3 kita buat sendiri di sekolah, hibur Pak Hakim. Tapi, harus ikut latihan Pandu SIT dulu ya.
Akhirnya, para siswa pulang dengan hati gembira. Semuanya? Oh tidak. Ternyata ada juga yang mabuk. Tapi ketika ditanya, apakah kalau diajak PLS lagi mau ikut, mereka kompak menjawab mauuu….
(Jazakumullahu khairan katsiran buat Bu Auri, Bu Gi’, Bu Naili, Pak Haris and Pak Hakim)
Kiriman: Bu Krisni

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: